Feeds:
Posts
Comments

“Barakallahu laka wabaraka ‘alaika wajama’a bainakuma fii khoirin…” inilah do’a yang terucap dari sebagian tamu undangan di hari yang membahagiakan itu. Seakan hari itu bagaikan mimpi, entahlah…

Tak terasa 2 minggu berjalan, tak terasa memang. Dulu saat menunggu hari itu tiba seakan beribu tahun lamanya, namun terjawab sudah do’aku, Alhamdulillah Allah telah halalkan bagiku seorang gadis yang insyaallah terbaik untuk kehidupanku. Dua insan yang berbeda, dengan latar belakang keluarga yang berbeda, pola asuh, pola pendidikan, pola komunikasi dan lainnya itu disatukan dalam satu atap yaitu atap “pernikahan”. Lembaran yang tadinya kosong itu mulai kami isi dengan cerita-cerita baru. Hidup berkeluarga bukan tentang aku ataupun dia namun tentang aku, dia , keluargaku, keluarganya dan masyarakat. Itulah indahnya berkeluarganya, semuanya perlu dijalani dengan keyakinan yang kuat.

Bagi sebagian orang mungkin ada yang mengatakan bahwa “pernikahan” itu adalah sebuah kaliamat, paragraf atau bahakan lembaran-lemabaran kertas yang tersusun  menjadi sebuah buku. Yah itu memang benar, tapi itu adalah proses perjalanannya nanti, namun bagiku “pernikahan” itu cukup satu kata saja yaitu “pernikahan”, walaupun memang nantinya satu kata itu akan menjadi sebuah “kisah” yang berjilid-jilid. Positif thinking saja, putuskan dan jalani saja dengan penuh kebersyukuran dan kesabaran. Satu Hadits Qudsi yang selalu aku pegang adalah “Aku (Allah) seperti apa yang di prasangkakan hamba-Ku”, mungkin kalau dibahasakan dalam bahasa psikologi adalah “positif thinking”. Modal awal adalah Bismillah memutuskan perkara yang besar ini dengan senantiasa memohon bimbingan Allah dan selalu menanamkan keyakinan sekuat-kuatnya bahwa Allah pasti mencukupkan kehidupan kami…

#to be continued…

 

Bismillahirrahmanirrahim…

Kali ini saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman salah satu sahabat baik saya di bumi eropa, sebut saja Mr. Mx. Dia bertanya kepada saya tentang bagaimana menyikapi orang yang berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan makhram (orang yang haram untuk dinikahi). Mungkin secara keilmuan, sahabat saya ini jauh lebih diatas saya terlebih dalam masalah agama lah wong beliau anak seorang Ustadz sedangkan saya hanya orang yang masih “cupu” atau pemula dalam hal agama. Disini sahabat saya bertanya bukan karena tidak tahu melainkan hanya sharing, atau berbagi pengalaman bagaimana cara menyikapi hal demikian. Mr.Mx bertanya kepada saya, kalau dia punya rekan disana seorang perempuan sebut saja prof. Mrs. My. Pada setiap kesempatan prof.Mrs.My ini memiliki kepribadian yang hangat dan ramah. Setiap kali hendak berdiskusi Mrs.My selalu mengajak berjabat tangan untuk memuliakan lawan bicaranya, lantas bagaimana ini?
Mungkin dalam menjawab hal ini saya tidak akan menjawab dengan panjang lebar dalilnya karena saya yakin sahabat saya ini sudah tahu persis dalilnya. Analoginya begini, saya yakin setiap daerah atau wilayah memiliki ciri “budaya” tersendiri dan saya yakin  setiap orang yang bijak akan menghargai “budaya” atau perilaku orang lain. Semisal kalau di jawa kita melewati perkampungan orang dan berpapasan dengan penduduk setempat maka sewajarnya kita menyapa dengan senyuman atau dengan bahasa tubuh lainnya. Atau kalau di eropa ada ritual “cipika-cipiki” yang sudah menjadi sebuah kewajaran saat bertemu lawan jenis, dimana mereka dengan ringannya melakukan hal demikian. Maka dari hal inilah dapat digaris bawahi bahwasannya ISLAM memiliki “kultur” atau bahasa syar’inya adalah “Syari’at” yang perlu dibudayakan dan dilestarikan. Dalam hal ini adalah bagaimana Islam mengatur pola interaksi antar lawan jenis, termasuk dalam hal bersalaman. Memang jujur saja saya pribadi belum bisa sepenuhnya menerapkan untuk menghindari berjabat tangan dengan yang bukan makhrom, namun demikian saya berusaha untuk mengupayakannya. Terlebih setelah saya membaca penjelasan sahabat saya yang lain di Graup FB dalam FORUM PERSAUDARAAN SYARI’AH. Dijelaskan disitu bahwasannya bersalaman antara lawan jenis yang bukan makhrom tidak dibenarkan dalam syari’at atau bahasa “ekstrim”nya Haram mengacu pada dalil-dalil yang shahih berdasarkan penjelasan para ulama’. Memang ada beberapa perbedaan pendapat disini, namun kita juga perlu berhati-hati bukan?

Saat membaca penjelasan-penjelasan tadi saya mencoba berfikir dan mengatur strategi bagaimana sebenarnya cara mengedukasi yang baik namun tanpa harus melukai perasaan orang lain. Nah saya mencoba berfikir “nakal” sedikit, bukannya bangsa-bangsa Eropa dan amerika yang sering menggembar-gemborkan HAM (Hak Asasi Manusia) bukan? Nah jadi karena mereka yang mengkonsepkan adanya HAM maka mau tidak mau mereka juga mau menerima perbedaan dan menghargai “budaya” orang lain termasuk Islam.

Menurut saya, dalam kasus sahabat saya ini dimana rekannya di eropa sana adalah orang yang notabene memiliki latar belakang akademis yang tidak perlu diragukan lagi. Justru saya rasa orang tersebut dapat diajak diskusi secara ilmiah dan terbuka dan apa salahnya kita menjelaskan bahwa “budaya” islam adalah begini dan begini. Dengan demikian merekapun faham dengan apa yang kita yakini, tentunya dengan cara yang baik. Dengan adanya keterbukaan maka informasi dapat tersampaikan dengan baik oleh orang yang tepat kepada orang yang tepat pula. Sehingga tidak menimbulkan prasangka dan opini yang tidak pada tempatnya. Perlu dijelaskan pula bahwasannya untuk memuliakan orang lain khususnya lawan jenis, islam memiliki metode tersendiri. Dan banyak hal yang dapat kita edukasikan kepada khalayak ramai tentang bagaimana pola komunikasi yang baik dengan orang lain. Toh masih banyak hal selain bersalaman guna memuliakan Lawan jenis yang bukan makhrom bukan? Jadi mengapa kita harus malu, tidak percaya diri untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain? kalau kebaikan itu disampaikan dengan cara yang baik, saya kita Insyaallah orang akan menerima kecuali orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Wallahua’lam… :)

Bismillahirrahmanirrahim…

Bagi mereka yang pernah duduk di bangku Madrasah Ibtidaiyah (MI) mungkin cerita ini sudah tak asing lagi dalam ingatan mereka. Bagi saya pribadi yang dari kecil mengang tidak pernah menyentuh pendidikan berbasis keislaman mungkin menjadi sesuaty hal yang baru. Kala itu saya mengikuti kajian Tafsir Al Qur’an yang diampu oleh Ust. Supriyanto Pasir di Masjid Darussalam GPW. Pada kesempatan tersebut beliau menceritakan sedikit tentang pelajaran yang biasa disampaikan di MI pada umumnya. Cerita tersebut biasa tertulis di kitab-kitab klasik yang mungkin pada zaman sekarang ini sudah sangat jarang disampaikan. Berikut isi dari cerita yang disampaikan Ust. Supriyanto Pasir atau sebutan akrabnya Ust. Ucup.

Cerita:

Pelajaran Hari Pertama

Pada suatu ketika dalam sebuah kelas seorang guru menyampaikan topik tentang “MUROQOBAH” secara sederhananya pengertiannya adalah merasa selalu diawasi oleh Allah dalam setiap lini kehidupannya. Kemudian sang guru ini menjelaskan bahwasannya Allah Subhanahu wata’ala adalah Tuhan semesta alam, Ia tidak pernah tidur dan selalu terjaga. Allah adalah Dzat Yang Maha Melihat lagi Maha Mendengar. Sehingga tiada satupun kejadian yang luput dari pengawasan-Nya, bahkan dedaunan yang berguguran dimalam hari sekalipun. Sang Guru menjelaskan agar siswanya selalu merasa diawasi oleh Allah SWT sehingga selalu berada dalam kebaikan. Dan pelajaran hari pertamapun selesai.

Pelajaran hari kedua

Pada hari yang kedua terjadi diskusi antara pak guru dengan siswanya:

Pak Guru: Assalamu’alaykum anak-anak…?

Siswa: Wa’alaykumussalam Pak…

Pak Guru: Ok, Sekarang bapak mau tanya, siapakah Tuhan semesta alam?

Siswa: Allah pak guru!

Pak Guru: Lantas siapa yang selalu mengawasi kita setiap hari?

Siswa: Allah pak…

Pak Guru: Baiklah, sekarang bapak ada permainan… Siapa mau ikutan main?

Siswa: Saya pak guru! (murid2 serempak dengan penuh semangat menjawab ajakan pak guru)

Pak Guru: Ok, pak guru sekaran memiliki 20 potong roti, jadi masing-masing kalian akan mendapat jatah 1 potong roti, mau?

Siswa: mau pak guru…

Pak Guru: Bagi kalian yang memenangkan permainan ini akan bapak kasih hadiah, mau?

Siswa: mau pak…

Pak Guru: Sekarang, tugas kalian adalah mencari tempat persembunyian yang paling aman. Kemudian kalian boleh makan kue pemberian bapak kalau tidak ada satupun yang melihat kalian di tempat persembunyian, ok!

Siswa: Okeee!

Pak Guru: Furqon, coba bantu bapak bagi kuenya…

Furqon: ya pak… [ketua kelas]

Pak Guru: Ya, sekarang kalian boleh berpencar untuk mencari tempat persembunyian paling aman. Bapak hitung mundur ya… 4,3,2,1 …mulai! (murid-muridpun berpencar mencari persembunyian paling aman)

Setelah beberapa menit berlalu pak gurupun kembali memanggil murid-muridnya…

Pak Guru: Anak-anak… ayo kumpul lagi…

Siswa: ya pak… (anak-anak beduyun-duyun mendatangi pak guru)

Pak Guru: Anak-anak, apakah akalian sudah memakan kuenya?

Siswa: Sudah pak… (namun ada satu siswa yang menjawab belum, sebut saja namanya Hanif)

Pak Guru: Furqon, kamu tadi bersembunyi dimana?

Furqan: di atas pohon pak…

Pak Guru: Bagus, kamu dimana?

Bagus: di bawah meja pak…

Pak Guru: Sari, kamu dimana?

Sari: dibelakang lemari…

Pak Guru: Apakah waktu kalian makan kue tadi benar-benar tidak ada satupun yang melihatnya?

Siswa: Tidak pak… (Hanif pun terdiam, dan tertunduk lesu)

Pak Guru: Hanif, kenapa kamu kok masih membawa kue yang bapak beri?

Hanif: maaf pak…

Pak Guru: Kenapa kamu? apakah kamu tidak mengikuti perintah bapak tadi?

Hanif: aaa..anu pak, saya sudah berusaha sembunyi tapi masih ada yang melihat saya terus…

Pak Guru: Siapa itu Hanif?

Hanif: Allah pak, jadi kenapun saya sembunyi Allah selalu mengawasi saya jadinya saya tidak memakan kue pemberian bapak…

Pak Guru: Subhanallah, Hanif… kamu benar-benar mengerti dan mengamalkan apa yang bapak ajarkan kemarin…

Hanif: begitu ya pak (dengan muka sedikit senyum lega

Pak Guru: Anak-anak… Jadi pemenang permainan makan kue hari ini adalah Hanif, karena dia sudah mengerti tentang pelajaran MUROQOBAH kemarin. Untuk hari ini cukup sekian ya… Assalamu’alaykum…

Siswa: Wa’alaykumussalam…

Sobat sekalian, dari cerita singkat diatas dapat kita ambil hikmahnya bahwasannya MUROQOBAH adalah hal penting untuk membentengi diri kita dari segala bentuk perbuatan maksiat dan memacu kita untuk selalu beramal Shalih. Kiranya cukup sekian, semoga bermanfa’at. Allahua’lam…

Iklan layanan anti korupsi yang baru-baru ini mulai tayang di televisi membuat saya ingin menulis. Sebenarnya sebelum munculnya iklan layanan tersebut sudah terbesit dibenak saya untuk menuliskan hal ini. Namun baru kali ini saya menyempatkan diri untuk menulis. Memang letak nilai kejujuran harus dibangun dari “pondasi” yang kokoh semenjak usia dini. Dari kecil harus ditanamkan sebuah nilai-nilai kejujuran sehingga hal ini dapat menjadi “long term memory” yang selalu melekat dalam setiap pribadi.

Menilik akan sejarah masa lalu, dimana seorang pemuda yang tumbuh dengan nilai-nilai kejujuran yang melekat pada dirinya. Dialah Muhammad ibn Abdullah, inspirator dan orator terhandal di seluruh belahan dunia dimasanya yang nilai-nilai luhurnya masih mewarnai hingga saat ini. Sifat yang melekat pada beliau adalah sidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Sidiq (dapat dipercaya) adalah karakteristik pertama yang melekat pada diri Nabi Muhammad. Tidak bermaksud mengesampingkan karakteristik nabi Muhammad yang lain, tapi dalam tulisan kali ini saya mencoba mengajak sobat sekalian untuk menelaah lebih mendalam tentang sifat Sidiq.

Kembali kepada iklan layanan anti korupsi, kita bisa lihat bahwa ada seorang siswa yang “hobinya mencontek” akan mempengaruhi karier ke depannya. Mulai dari urusan percintaan, dia berselingkuh kemudian setelah menjadi pejabat dia korupsi. Nah inilah menjadi akar permasalahan yang tidak kita sadari telah mendarah daging di sebagian (entah kecil atau besar) di kalangan masyarakat Indonesia. Saya tidak berani menyimpulkan apakah hal ini mutlak sebagian dari kita “hobi mencontek”.

Mungkin kita bisa sedikit mengingat kembali peristiwa ujian nasional SD di daerah surabaya yang “isunya” ada “insiden” contek-menyontek. Dimana contekan masal ini dilegalkan oleh guru atau orang tua/wali murid. Salah satu sumber (pemberi contekan) yang melapor justru dikucilkan dan disudutkan. Terlebas benar atau tidaknya, kalau begini adanya inilah yang menjadi bahaya “pemupuk” kesuburan “Korupsi” di Indonesia. Secara otomatis pejabat negeri ini akan lahir dari anak-anak SD ini, kalau dari kesekian banyaknya SD ini mempraktikkan hal demikian, alamak sangat bisa dibayangkan bagaimana kondisi negeri ini di masa mendatang. Dan mungkin kita bisa berkaca pada kasus-kasus korupsi di negeri tercinta ini pada saat sekarang ini.

Jadi, dalam tulisan ini saya tidak akan menyalahkan siapapun. Ini menjadi bahan renungan bersama, tulisan ini dapat dijadikan cambuk untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran pada diri kita masing-masing.

Bismillah…

Sadar tidak sadar kita dikelilingi oleh tangan-tangan yang menengadah untuk sesuap nasi, atau tangan yang telungkup namun sejatinya ia menahan lapar dan dahaga. Bisa kita lihat disetiap perempatan lampu lalu lintas ada wajah-wajah yang mengisyaratkan kepiluan dan kepedihan. Bukan hanya itu, mereka adalah jiwa-jiwa yang kering akan kasih sayang. Ada juga sebagian yang melenggak-lenggokkan tubuhnya dengan irama-irama kegembiraan namun sejatinya mereka pilu, pedih dan jiwa mereka hambar. Ini baru di segelintir dari banyaknya kisah kehidupan kaum-kaum termarginalkan. Mereka memiliki dunianya sendiri, tak jarang kita sulit menyentuhnya…

Sobat, bisa kita amati bersama berapa banyak puntung rokok itu bertebaran disetiap sudut kehidupan ini. Berapa nilai yang telah dihamburkan menjadi kepulan asap yang mengudara tanpa ada wujudnya, sirna dalam hembusan udara. Setiap kepulan itu ibarat hirupan nafas kehidupan  jiwa. Sepuntung rokok yang tak kita hidupkan akan mengurangi sesaknya paru-paru kehidupan. Sepuntung rokok yang kita gantikan nilainya menjadi sedekah akan membuat wajah-wajah dipinggiran itu menjadi sejatinya senyum, senyuman yang datang dari hati… bukan sekedar topeng yang dibaliknya ada kemuraman.

Allahua’lam…

Bunda, beriring detak jantungmu aku yankin engkau selalu membasahi lisanmu dengan untaian do’a…

Bunda, saat orang-orang meninggalkanku dalam isak tangisan engkau datang dengan senyuman yang menguatkanku…

Bunda, saat aku mulai merangkak engkau menitahku untuk membantuku melangkah…

Bunda, saat aku hanya bisa menangis engkau mengajarkanku untuk “bernyanyi”…

Bunda, saat aku tertatih-tatih dalam berjalan engkau mengajariku berlari…

Bunda, saat aku terjatuh engkau ulurkan tanganmu untuk memapahku…

Bunda, kini aku sudah bisa berlari…

Bunda, kini saat aku terjatuh aku bisa bangkit sendiri…

Bunda, kini aku bisa “bernyanyi” lagu yang aku sukai…

Bunda, ijinkanlah aku untuk berlari dan bernyanyi dengan langkah dan iramaku sendiri…

Bunda, yang kupinta hanyalah seuntai do’a…

Do’a yang membuahkan senyuman… untukku, untuk bunda dan untuk kita semua…

Di Bawah Naungan Kubah Piramid

Masjid Darussalam, GPW

Jogjakarta

Bismillah,

Dengan menyebut Asma Alloh semoga senantiasa meluruskan lisan ini dan membimbing tangan ini untuk berbagi sebuah cerita dengan pemaknaan yang mendalam dari sebuah sisi kehidupan dengan sisi kehidupan yang lain.

Kita dilahirkan di negeri tercinta ini dengan kondisi yang secara umum penuh “kenyamanan”. Hal inilah yang membuat kita menjadi pribadi yang menyukai posisi “aman”. Padahal disaat kondisi itu mencapai titik kenyamanan paling tinggi maka mungkin akan terjadi perubahan yang signifikan dalam sebuah kehidupan, bahkan mungkin terjadi sebuah degradasi yang sangat curam akibat perubahan zaman. Pola pikir dapat terbentuk dari lingkungan, mulai dari keluarga, masyarakat ataupun lingkungan pendidikan.
Sekedar analisa sederhana, mungkin bisa dilihat dari lingkungan keluarga. Bisa kita lihat jika orang tua itu memiliki latar belakang pegawai maka akan cenderung mengarahkan anak-anaknya menjadi seorang pegawai. Jika orang tua berlatar belakang wiraswasta maka akan mengarahkan anaknya menjadi seorang wiraswasta.

Pada kenyataannya memang demikian, memang tidak salah ketika orang tua memberikan pengarahan kepada seorang anak untuk kebaikan anak tersebut. Saya yakin tidak satupun orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Oke, mungkin hal ini bisa diilustrasikan dalam sebuah film dengan judul 3 IDIOT yang menurut saya inspiratif dan dapat membuka mata kita guna merubah paradigma berfikir kita yang cenderung “Kolot”. Dalam film tersebut digambarkan bahwa orang tua cenderung mengarahkan anaknya untuk menjadi “apa yang orang tua inginkan”, bukan dari apa yang membuat seorang anak “enjoy” dalam menentukan pilihan jalan hidupnya. Memang orang tua berbicara berdasarkan pengalaman hidupnya sejak masa kecil hingga sekarang, tapi ingat orang tua dan anak berjalan pada “rel” yang berbeda. Sehingga perlu dipahami bahwa dari masa kemasa sudah terjadi banyak perubahan.

Yang paling utama adalah mensinergikan antara pengarahan orang tua dengan “impian anak”. Mungkin orang tua memliki harapan yang besar kepada anak untuk menjadi “sesuatu”, tapi perlu diingat bahwa anak pun memiliki “dunia dan impian”nya sendiri. Apapun yang menjadi pilihan seorang anak selama itu baik dan tidak menyimpang dari syariat agama alangkah bijaknya apabila orang tua selalu memberikan support. Tidak ada hal yang lebih utama selain Ridho dari orang tua walau hanya dengan segenggam do’a. Dan justru inilah yang telah banyak mencetak generasi-generasi yang sukses. Biarkan anak-anak mengejar impiannya sendiri dengan caranya sendiri, sebab menjalani kehidupan ini pun mempunyai “seni” tersendiri. Setiap orang memiliki “metode seni” tersendiri dalam menjalani kehidupan, dan biarkan setiap orang melukiskan kehidupannya dengan caranya sendiri. Pribadi yang luar biasa bukan berarti sempurna, tugas kita bukan untuk berhasil tetapi untuk selalu mencoba.

Allahua’lam…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.