Dari Eropa, Negeri Kincir Angin Mengedukasi Tanpa Menyakiti…

Bismillahirrahmanirrahim…

Kali ini saya akan menceritakan sedikit tentang pengalaman salah satu sahabat baik saya di bumi eropa, sebut saja Mr. Mx. Dia bertanya kepada saya tentang bagaimana menyikapi orang yang berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan makhram (orang yang haram untuk dinikahi). Mungkin secara keilmuan, sahabat saya ini jauh lebih diatas saya terlebih dalam masalah agama lah wong beliau anak seorang Ustadz sedangkan saya hanya orang yang masih “cupu” atau pemula dalam hal agama. Disini sahabat saya bertanya bukan karena tidak tahu melainkan hanya sharing, atau berbagi pengalaman bagaimana cara menyikapi hal demikian. Mr.Mx bertanya kepada saya, kalau dia punya rekan disana seorang perempuan sebut saja prof. Mrs. My. Pada setiap kesempatan prof.Mrs.My ini memiliki kepribadian yang hangat dan ramah. Setiap kali hendak berdiskusi Mrs.My selalu mengajak berjabat tangan untuk memuliakan lawan bicaranya, lantas bagaimana ini?
Mungkin dalam menjawab hal ini saya tidak akan menjawab dengan panjang lebar dalilnya karena saya yakin sahabat saya ini sudah tahu persis dalilnya. Analoginya begini, saya yakin setiap daerah atau wilayah memiliki ciri “budaya” tersendiri dan saya yakin  setiap orang yang bijak akan menghargai “budaya” atau perilaku orang lain. Semisal kalau di jawa kita melewati perkampungan orang dan berpapasan dengan penduduk setempat maka sewajarnya kita menyapa dengan senyuman atau dengan bahasa tubuh lainnya. Atau kalau di eropa ada ritual “cipika-cipiki” yang sudah menjadi sebuah kewajaran saat bertemu lawan jenis, dimana mereka dengan ringannya melakukan hal demikian. Maka dari hal inilah dapat digaris bawahi bahwasannya ISLAM memiliki “kultur” atau bahasa syar’inya adalah “Syari’at” yang perlu dibudayakan dan dilestarikan. Dalam hal ini adalah bagaimana Islam mengatur pola interaksi antar lawan jenis, termasuk dalam hal bersalaman. Memang jujur saja saya pribadi belum bisa sepenuhnya menerapkan untuk menghindari berjabat tangan dengan yang bukan makhrom, namun demikian saya berusaha untuk mengupayakannya. Terlebih setelah saya membaca penjelasan sahabat saya yang lain di Graup FB dalam FORUM PERSAUDARAAN SYARI’AH. Dijelaskan disitu bahwasannya bersalaman antara lawan jenis yang bukan makhrom tidak dibenarkan dalam syari’at atau bahasa “ekstrim”nya Haram mengacu pada dalil-dalil yang shahih berdasarkan penjelasan para ulama’. Memang ada beberapa perbedaan pendapat disini, namun kita juga perlu berhati-hati bukan?

Saat membaca penjelasan-penjelasan tadi saya mencoba berfikir dan mengatur strategi bagaimana sebenarnya cara mengedukasi yang baik namun tanpa harus melukai perasaan orang lain. Nah saya mencoba berfikir “nakal” sedikit, bukannya bangsa-bangsa Eropa dan amerika yang sering menggembar-gemborkan HAM (Hak Asasi Manusia) bukan? Nah jadi karena mereka yang mengkonsepkan adanya HAM maka mau tidak mau mereka juga mau menerima perbedaan dan menghargai “budaya” orang lain termasuk Islam.

Menurut saya, dalam kasus sahabat saya ini dimana rekannya di eropa sana adalah orang yang notabene memiliki latar belakang akademis yang tidak perlu diragukan lagi. Justru saya rasa orang tersebut dapat diajak diskusi secara ilmiah dan terbuka dan apa salahnya kita menjelaskan bahwa “budaya” islam adalah begini dan begini. Dengan demikian merekapun faham dengan apa yang kita yakini, tentunya dengan cara yang baik. Dengan adanya keterbukaan maka informasi dapat tersampaikan dengan baik oleh orang yang tepat kepada orang yang tepat pula. Sehingga tidak menimbulkan prasangka dan opini yang tidak pada tempatnya. Perlu dijelaskan pula bahwasannya untuk memuliakan orang lain khususnya lawan jenis, islam memiliki metode tersendiri. Dan banyak hal yang dapat kita edukasikan kepada khalayak ramai tentang bagaimana pola komunikasi yang baik dengan orang lain. Toh masih banyak hal selain bersalaman guna memuliakan Lawan jenis yang bukan makhrom bukan? Jadi mengapa kita harus malu, tidak percaya diri untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain? kalau kebaikan itu disampaikan dengan cara yang baik, saya kita Insyaallah orang akan menerima kecuali orang-orang yang memiliki penyakit dalam hatinya. Wallahua’lam… 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s