Belajar Menjadi Manusia “Cerdas”

Jum’at, 3 Mei 2013 Masjid Fak. Pertanian UNS pun sesak dipenuhi jama’ah sholat jum’at. Kali ini khotib menyampaikan beberapa pesan yang membuatku seolah “ditampar”, kata yang cukup menggunggah hati “Apa bekal kita, saat pemutus kenikmatan dunia sudah tiba saatnya?”. Hatiku pun menyentak, “Apa bekalmu Vide!”. Dalam setiap ayat Al Qur’an yang disampaikan Khotib mencoba aku resapi, seolah aku berdiri di depan cermin dan aku tahu bekalku pun rasanya belum cukup. Melihat Almarhum Ustadz Jefri saja yang disholatkan sekian banyaknya orang, lantas bagaimana denganku nanti?. Tapi aku masih tidak putus asa, teringat akan kisah Uwais Al Qarni, “Dikenal penduduk langit, tak dikenal penduduk bumi”.

Yah begitulah kehidupan, hati ibarat rambut yang terhampar diluasnya padang pasir terbawa dan terombang-ambing oleh angin, itulah hati selalu berbaolah-balik (Sabda Nabi:dicari sendiri referensinya 🙂 ). Iman yang didalam hati sesorang pun demikian, naik turunnya iman sangat berpengaruh akan kualitas ketakwaan seorang hamba. Teringat pertanyaan Imam Gazhali kepada muridnya: “Wahai muridku, apakah yang paling jauh darimu?”, lantas murid-muridnya pun menjawab dengan berbagai jawaban, “Bulan guru”, “Matahari guru” dan lain sebagainya. Lantas Imam Gazhali pun menjawab: “Wahai muridku, sesungguhnya yang paling jauh dengan kita adalah masa lalu, sebab walau sedetik iapun takkan bisa kembali”.

Benar apa yang dikatakan imam Gazhali, masa lalu takkan pernah kembali dan takkan bisa diulang dan yang ada hanya masa depan. Masa lalu hanya dapat kita ambil ibrohnya untuk perbaikan masa depan.

Ibnu Umar ra. berkata, “Aku datang menemui Nabi SAW. bersama sepuluh orang, lalu salah seorang dari kaum Anshar bertanya, ‘Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “ Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya. Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat ”.

(HR. Ibnu Majah)

27 tahun telah berlalu, aku pun tidak bisa mengembalikannya dan memperbaikinya. Namun masih ada masa depan entah itu sedeti, satu jam, satu tahu, sepuluh tahu ataupun duapuluh tahun lagi aku tak tahu. Namun harapan tetap masih ada, selama ada kerja keras dan do’a. Aku ingin sekali menjadi orang yang “cerdas” seperti apa yang dikabarkan oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Bukan seperti kata layaknya orang, harus berlebel profesor, doktor, Master dan lain-lainnya. Walaupun memang tidak ada salahnya apabila aku tetap bisa menjadi profesor yang cerdas.

Allohua’lam

Surakarta, 3 mei 2013

-D3 Teknik Informatika FMIPA UNS-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s