Iklan Layanan Anti Korupsi,Sinergi Dengan Suri Tauladan Nabi

Iklan layanan anti korupsi yang baru-baru ini mulai tayang di televisi membuat saya ingin menulis. Sebenarnya sebelum munculnya iklan layanan tersebut sudah terbesit dibenak saya untuk menuliskan hal ini. Namun baru kali ini saya menyempatkan diri untuk menulis. Memang letak nilai kejujuran harus dibangun dari “pondasi” yang kokoh semenjak usia dini. Dari kecil harus ditanamkan sebuah nilai-nilai kejujuran sehingga hal ini dapat menjadi “long term memory” yang selalu melekat dalam setiap pribadi.

Menilik akan sejarah masa lalu, dimana seorang pemuda yang tumbuh dengan nilai-nilai kejujuran yang melekat pada dirinya. Dialah Muhammad ibn Abdullah, inspirator dan orator terhandal di seluruh belahan dunia dimasanya yang nilai-nilai luhurnya masih mewarnai hingga saat ini. Sifat yang melekat pada beliau adalah sidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Sidiq (dapat dipercaya) adalah karakteristik pertama yang melekat pada diri Nabi Muhammad. Tidak bermaksud mengesampingkan karakteristik nabi Muhammad yang lain, tapi dalam tulisan kali ini saya mencoba mengajak sobat sekalian untuk menelaah lebih mendalam tentang sifat Sidiq.

Kembali kepada iklan layanan anti korupsi, kita bisa lihat bahwa ada seorang siswa yang “hobinya mencontek” akan mempengaruhi karier ke depannya. Mulai dari urusan percintaan, dia berselingkuh kemudian setelah menjadi pejabat dia korupsi. Nah inilah menjadi akar permasalahan yang tidak kita sadari telah mendarah daging di sebagian (entah kecil atau besar) di kalangan masyarakat Indonesia. Saya tidak berani menyimpulkan apakah hal ini mutlak sebagian dari kita “hobi mencontek”.

Mungkin kita bisa sedikit mengingat kembali peristiwa ujian nasional SD di daerah surabaya yang “isunya” ada “insiden” contek-menyontek. Dimana contekan masal ini dilegalkan oleh guru atau orang tua/wali murid. Salah satu sumber (pemberi contekan) yang melapor justru dikucilkan dan disudutkan. Terlebas benar atau tidaknya, kalau begini adanya inilah yang menjadi bahaya “pemupuk” kesuburan “Korupsi” di Indonesia. Secara otomatis pejabat negeri ini akan lahir dari anak-anak SD ini, kalau dari kesekian banyaknya SD ini mempraktikkan hal demikian, alamak sangat bisa dibayangkan bagaimana kondisi negeri ini di masa mendatang. Dan mungkin kita bisa berkaca pada kasus-kasus korupsi di negeri tercinta ini pada saat sekarang ini.

Jadi, dalam tulisan ini saya tidak akan menyalahkan siapapun. Ini menjadi bahan renungan bersama, tulisan ini dapat dijadikan cambuk untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran pada diri kita masing-masing.

Advertisements

Sepuntung Rokok Untuk Kehidupan

Bismillah…

Sadar tidak sadar kita dikelilingi oleh tangan-tangan yang menengadah untuk sesuap nasi, atau tangan yang telungkup namun sejatinya ia menahan lapar dan dahaga. Bisa kita lihat disetiap perempatan lampu lalu lintas ada wajah-wajah yang mengisyaratkan kepiluan dan kepedihan. Bukan hanya itu, mereka adalah jiwa-jiwa yang kering akan kasih sayang. Ada juga sebagian yang melenggak-lenggokkan tubuhnya dengan irama-irama kegembiraan namun sejatinya mereka pilu, pedih dan jiwa mereka hambar. Ini baru di segelintir dari banyaknya kisah kehidupan kaum-kaum termarginalkan. Mereka memiliki dunianya sendiri, tak jarang kita sulit menyentuhnya…

Sobat, bisa kita amati bersama berapa banyak puntung rokok itu bertebaran disetiap sudut kehidupan ini. Berapa nilai yang telah dihamburkan menjadi kepulan asap yang mengudara tanpa ada wujudnya, sirna dalam hembusan udara. Setiap kepulan itu ibarat hirupan nafas kehidupan  jiwa. Sepuntung rokok yang tak kita hidupkan akan mengurangi sesaknya paru-paru kehidupan. Sepuntung rokok yang kita gantikan nilainya menjadi sedekah akan membuat wajah-wajah dipinggiran itu menjadi sejatinya senyum, senyuman yang datang dari hati… bukan sekedar topeng yang dibaliknya ada kemuraman.

Allahua’lam…

Seuntai Do’a Untuk Sebuah Senyuman

Bunda, beriring detak jantungmu aku yankin engkau selalu membasahi lisanmu dengan untaian do’a…

Bunda, saat orang-orang meninggalkanku dalam isak tangisan engkau datang dengan senyuman yang menguatkanku…

Bunda, saat aku mulai merangkak engkau menitahku untuk membantuku melangkah…

Bunda, saat aku hanya bisa menangis engkau mengajarkanku untuk “bernyanyi”…

Bunda, saat aku tertatih-tatih dalam berjalan engkau mengajariku berlari…

Bunda, saat aku terjatuh engkau ulurkan tanganmu untuk memapahku…

Bunda, kini aku sudah bisa berlari…

Bunda, kini saat aku terjatuh aku bisa bangkit sendiri…

Bunda, kini aku bisa “bernyanyi” lagu yang aku sukai…

Bunda, ijinkanlah aku untuk berlari dan bernyanyi dengan langkah dan iramaku sendiri…

Bunda, yang kupinta hanyalah seuntai do’a…

Do’a yang membuahkan senyuman… untukku, untuk bunda dan untuk kita semua…

Di Bawah Naungan Kubah Piramid

Masjid Darussalam, GPW

Jogjakarta

Menjadi Biasa Saja Yang Luar Biasa…

Bismillah,

Dengan menyebut Asma Alloh semoga senantiasa meluruskan lisan ini dan membimbing tangan ini untuk berbagi sebuah cerita dengan pemaknaan yang mendalam dari sebuah sisi kehidupan dengan sisi kehidupan yang lain.

Kita dilahirkan di negeri tercinta ini dengan kondisi yang secara umum penuh “kenyamanan”. Hal inilah yang membuat kita menjadi pribadi yang menyukai posisi “aman”. Padahal disaat kondisi itu mencapai titik kenyamanan paling tinggi maka mungkin akan terjadi perubahan yang signifikan dalam sebuah kehidupan, bahkan mungkin terjadi sebuah degradasi yang sangat curam akibat perubahan zaman. Pola pikir dapat terbentuk dari lingkungan, mulai dari keluarga, masyarakat ataupun lingkungan pendidikan.
Sekedar analisa sederhana, mungkin bisa dilihat dari lingkungan keluarga. Bisa kita lihat jika orang tua itu memiliki latar belakang pegawai maka akan cenderung mengarahkan anak-anaknya menjadi seorang pegawai. Jika orang tua berlatar belakang wiraswasta maka akan mengarahkan anaknya menjadi seorang wiraswasta.

Pada kenyataannya memang demikian, memang tidak salah ketika orang tua memberikan pengarahan kepada seorang anak untuk kebaikan anak tersebut. Saya yakin tidak satupun orang tua yang tidak menginginkan anaknya bahagia. Oke, mungkin hal ini bisa diilustrasikan dalam sebuah film dengan judul 3 IDIOT yang menurut saya inspiratif dan dapat membuka mata kita guna merubah paradigma berfikir kita yang cenderung “Kolot”. Dalam film tersebut digambarkan bahwa orang tua cenderung mengarahkan anaknya untuk menjadi “apa yang orang tua inginkan”, bukan dari apa yang membuat seorang anak “enjoy” dalam menentukan pilihan jalan hidupnya. Memang orang tua berbicara berdasarkan pengalaman hidupnya sejak masa kecil hingga sekarang, tapi ingat orang tua dan anak berjalan pada “rel” yang berbeda. Sehingga perlu dipahami bahwa dari masa kemasa sudah terjadi banyak perubahan.

Yang paling utama adalah mensinergikan antara pengarahan orang tua dengan “impian anak”. Mungkin orang tua memliki harapan yang besar kepada anak untuk menjadi “sesuatu”, tapi perlu diingat bahwa anak pun memiliki “dunia dan impian”nya sendiri. Apapun yang menjadi pilihan seorang anak selama itu baik dan tidak menyimpang dari syariat agama alangkah bijaknya apabila orang tua selalu memberikan support. Tidak ada hal yang lebih utama selain Ridho dari orang tua walau hanya dengan segenggam do’a. Dan justru inilah yang telah banyak mencetak generasi-generasi yang sukses. Biarkan anak-anak mengejar impiannya sendiri dengan caranya sendiri, sebab menjalani kehidupan ini pun mempunyai “seni” tersendiri. Setiap orang memiliki “metode seni” tersendiri dalam menjalani kehidupan, dan biarkan setiap orang melukiskan kehidupannya dengan caranya sendiri. Pribadi yang luar biasa bukan berarti sempurna, tugas kita bukan untuk berhasil tetapi untuk selalu mencoba.

Allahua’lam…

Cuman Mo Ngucapin Selamat Hari Raya Saja Yah… ^_^

Ho…ho…ho… Alhamdulillah 2 hari lagi hari raya idhul qurban menyapa kita sebagai umat islam. Hari dimana seluruh umat islam dianjurkan untuk mendatangi tanah lapang untuk menunaikan shalat idul adha. Selain itu juga dianjurkan untuk menyisihkan sebagian rizkinya dalam bentuk hewan (kambing, sapi, unta) untuk disembelih sebagai bentuk pengorbanan kepada Allah ta’ala. Sempat disampaikan oleh khatib jum’at tadi (03 November 2011), kalau shalat idhul adha sebagian ulama’ menjelaskan bahwa hukumnya adalah wajib. Kenapa demikian, dijelaskan bahwa Rasulullah dan para sahabat tidak pernah meninggalkannya, Allahuta’alaa’lam. Yang jelas orang yang meninggalkan 2 shalat di 2 hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dianggap sebagai orang yang meringankan perkara agama.

Oke, bagi kita yang sudah memiliki kemampuan finansial yang cukup memadai mari mempersiapkan diri untuk menyisihkan sebagian rizki kita dalam bentuk hewan qurban (kambing, sapi, unta), selain itu (seperti: menjangan, kerbau dll) saya ndak tau, coba tanyakan ke pak ustadz saja yah:) . Kebetulan Idul Qurban ( 10 Dzulhijjah) bertepatan pada hari minggu 6 november 2011, jadi besok sabtu 5 November 2011 kita disunnahkan untuk puasa arafah yaitu tanggal 9 dzulhijjah. Jadi sahabatku sekalian mari kita sama-sama memperbaiki amal kita di bulan yang mulia ini, semoga Allah memberi catatan amal yang baik bagi kita semua, amin. Allahua’lam…

Membuka Mata… 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta…

Sebuah obrolan sederhana dengan teman saya, Pak Purwono Hendradi tentang sebuah film dengan judul 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta, menggerakkan saya untuk memanjakan jari-jemari ini untuk menari-nari diatas keyboard. Dari hasil obrolan tersebut ada sedikit kesimpulan tentang bagaimana menyikapi hidup. Menurut kami alur cerita yang disajikan sang sutradara menggiring kita untuk berfikir bijak. Sebelum lebih jauh membahasnya mungkin sedikit review tentang film 3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta, bahwa ada seorang pemuda muslim (Rosyid) yang dihadirkan atas 2 buah pilihan wanita. Seorang wanita adalah seorang muslimah yang taat (Nabila), seorang lagi adalah wanita nasrani yang taat (Delia). Rosyid seorang pemuda keturunan arab yang ta’at dalam beragama, sedangkan Nabila seorang wanita dari keturunan Nasrani yang ta’at. Pada dasarnya Rosyid dan Delia adalah dua insan yang saling mencintai, namun karena perbedaan yang prinsip orang tua dari kedua belah pihakpun tidak mempersetujui hubungan mereka berdua. Sampai-sampai orang tua Rosyid menjodohkannya dengan Nabila, namun usaha inipun gagal karena kekeuhan si Rosyid. Dan pada akhirnya orang tua dari Rosyid maupun Delia pun sudah tak mampu lagi membendung keteguhan cinta mereka. Namun disaat orang tua mereka sudah tidak ada cara lagi untuk memisahkan mereka, dengan sendirinya mereka (Rosyid dan Delia) pun sadar bahwa sebuah perbedaan yang prinsip tidak selalu harus dipersatukan. Kalaupun bisa salah satunyapun harus siap mengalah dan bersabar. Mereka menyadari bahwa tidak semua perbedaan itu bisa disatukan. Memang perbedaan itu indah namun adakalanya ia tidak mesti dipersatukan.

Dari sedikit review tadi, saya dan pak Hendra mencoba menganalisa bahwasannya kita perlu membuka mata bahwasannya kesan-kesan miring dengan berlebelkan “fanatik” ataupun “garis keras” yang disematkan pada keyakinan tertentu, itupun berlaku dikeyakinan yang lain. Kita perlu melihat sisi-sisi lain kehidupan agar menjadi bijak, bahwasannya perbedaan itu indah namun dalam kondisi tertentu. Kalaupun dunia yang berbeda (prinsip) itu tidak memungkinkan untuk dipersatukan, biarkan ia berjalan di dunianya masing-masing dan tidak perlu dipaksakan. Intinya ini sesuai dengan konsep Islam “Lakum Dinukum Waliyadin” yang artinya “Bagimu Agamamu Bagiku Agamaku”. Ini analisis pribadi kami, kalaupun ada yang berbeda ya monggo saja… 🙂

Lihatlah…

Dinda, saat kau tanyakan kesungguhanku… maka aku takkan menjawabnya dengan untaian kata…

Dinda, lihatlah langkahku detik ini…

Jika engkau meragukan itu…

Lihatlah luasnya langit dan dalamnya samudera…

Jika engkau bertanya-tanya “apakah seluas dan sedalam itu?”…

Aku pun tak tahu harus menjawab apa lagi…

Maka tanyakan kepada hatimu… dinda…

Sebab Tuhan seperti apa yang engkau prasangkakan…

Kaliwatubumi, 01 November 2011